Bulan suci Ramadan seharusnya menjadi momen bagi para pelajar untuk meningkatkan kualitas spiritual dan melatih kesabaran melalui ibadah puasa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pelajar yang justru merasa tertekan secara mental akibat penumpukan kewajiban akademik yang tidak kunjung usai. Munculnya fenomena di mana Beban Tugas sekolah yang diberikan oleh guru terasa jauh lebih berat dibandingkan hari-hari biasa membuat siswa kesulitan untuk mengatur waktu antara beribadah, beristirahat, dan mengerjakan kewajiban belajar mereka di rumah.
Kondisi fisik yang sedang berpuasa tentu memiliki keterbatasan energi, sehingga pemberian Beban Tugas yang berlebihan dapat memicu kelelahan fisik yang berdampak langsung pada penurunan konsentrasi. Banyak siswa mengeluhkan bahwa waktu mereka setelah pulang sekolah hingga menjelang berbuka puasa habis hanya untuk menatap layar komputer atau buku pelajaran, tanpa sempat merasakan kedamaian suasana Ramadan. Stress akademik ini jika dibiarkan akan berdampak pada kualitas kesehatan mental siswa, yang pada akhirnya justru membuat motivasi belajar mereka menurun drastis karena merasa jenuh dengan tuntutan yang ada.
Pihak sekolah dan tenaga pendidik diharapkan memiliki empati yang lebih tinggi dengan melakukan penyesuaian terhadap jumlah Beban Tugas selama bulan puasa. Kurikulum yang padat memang menjadi tantangan tersendiri bagi guru, namun memaksa siswa untuk terus berproduksi secara maksimal di tengah kondisi tubuh yang kekurangan cairan dan energi adalah tindakan yang kurang bijaksana. Alangkah baiknya jika tugas-tugas yang diberikan lebih bersifat reflektif atau berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang selaras dengan semangat Ramadan, sehingga siswa tetap belajar tanpa harus merasa terbebani secara psikologis.
Dampak dari tingginya Beban Tugas ini juga merambah pada pola tidur siswa yang menjadi berantakan. Banyak pelajar yang terpaksa begadang setelah salat tarawih hingga waktu sahur hanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, yang berujung pada rasa kantuk yang luar biasa saat mengikuti pelajaran di kelas pada pagi harinya. Lingkaran setan ini terus berputar dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak sehat. Diperlukan koordinasi antar guru mata pelajaran agar tidak memberikan tugas secara bersamaan, sehingga tumpukan kewajiban tersebut tidak menumpuk di satu waktu yang sama.
