Di era pendidikan yang semakin kompetitif, fenomena FOMO akademik atau rasa takut tertinggal secara prestasi menjadi tekanan yang tak kasat mata namun sangat merusak mental remaja. Siswa-siswa “ambis” atau ambisius sering kali terjebak dalam perlombaan nilai yang tidak berkesudahan, di mana satu angka di bawah standar kesempurnaan dianggap sebagai kegagalan fatal. Kecemasan ini diperburuk dengan kemudahan akses melihat pencapaian rekan sebaya melalui media sosial, yang memicu dorongan untuk terus belajar melampaui batas kemampuan tubuh dan pikiran. Tanpa disadari, remaja kota kehilangan waktu bermain dan eksplorasi diri hanya demi mengejar gelar “siswa berprestasi” yang mereka anggap sebagai satu-satunya tiket menuju masa depan cerah.
Dampak dari FOMO akademik ini tidak main-main. Kelelahan kronis atau burnout menjadi santapan sehari-hari bagi mereka yang tidak mampu menyeimbangkan ambisi dengan istirahat. Remaja mulai mengabaikan kesehatan fisik, melewatkan jam makan, dan mengalami gangguan pola tidur yang parah demi menuntaskan tugas tambahan. Ketika tekanan ini memuncak, mereka sering merasa tidak berharga jika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Inilah sisi gelap dunia pendidikan kita: sebuah perlombaan yang lebih mengutamakan kuantitas nilai dibandingkan kualitas pertumbuhan karakter dan kebahagiaan mental siswa yang seharusnya menjadi prioritas utama sekolah.
Orang tua dan pendidik perlu menyadari bahwa FOMO akademik adalah sinyal bahaya yang harus diatasi dengan pendekatan humanis. Sekolah tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak nilai, melainkan harus menjadi ruang aman bagi siswa untuk gagal dan belajar dari kesalahan. Memaksa remaja untuk selalu berada di puncak performa hanya akan menciptakan generasi yang rentan, tidak tangguh, dan mudah hancur ketika menghadapi tantangan hidup yang sebenarnya di dunia kerja nanti. Kita perlu mengganti narasi kompetisi dengan kolaborasi agar siswa tidak lagi merasa harus mengalahkan teman mereka untuk sekadar merasa layak.
Langkah pertama dalam mengatasi FOMO akademik adalah dengan memberikan edukasi bahwa harga diri seorang anak tidak ditentukan oleh rapor atau sertifikat lomba. Dukungan psikologis dari guru BK dan keterbukaan komunikasi di rumah sangat krusial agar remaja merasa cukup dan berharga apa adanya. Mengurangi beban kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan emosional siswa juga menjadi langkah nyata. Kita harus berhenti menormalisasi beban kerja yang tidak wajar. Dengan menciptakan ekosistem yang lebih suportif, kita dapat membebaskan remaja dari belenggu FOMO akademik dan membantu mereka menemukan potensi sejati mereka tanpa harus mengorbankan kesehatan mental yang tak ternilai harganya.
